Selamat datang Di Blog Indah Aritonang

Selasa, 30 November 2010

Penyembuh kesombongan.

Dasar Kitab Suci
 
    Maka kitab suci sangat sadar akan hal ini, kita lihat dalam Kisah Para Rasul dikatakan “dan Allah melalui Paulus melakukan tanda dan mukjizat” (lih. Kis. 14:3; Kis. 15:12). Pengarang dengan sadar menyatakan bahwa tanda-tanda dan mukjizat bukan karya Paulus melainkan karya Allah melalui Paulus. Dalam hal ini jika kita diumpamakan dengan kuas yang digunakan pelukis untuk melukis. Kalau lukisan itu jadinya bagus, bukan jasa kuasnya melainkan jasa pelukisnya. Kuas itu tidak bisa apa-apa tetapi pelukis yang memakai kuas itu yang melukis, dialah yang sebetulnya pelaksana.
 
    St. Agustinus mengatakan bahwa “Allah memberikan karunia-karunia kepada kita dan Dia juga yang memahkotai jasa-jasa kita atau memberikan jasa kepada kita dengan memberikan karunia-Nya kepada kita”. Kita bisa berbicara tentang jasa kita, tetapi kita hanya terbuka dan mau menerima itu karena dari diri sendiri kita tidak bisa berbuat apa-apa tetapi kita mau digerakkan itulah kita bisa berbicara tentang jasa-jasa kita. Karena itu kita tidak usah berbangga-bangga terhadap apa yang kita lakukan, seperti yang dikatakan dalam Buku Mengikuti Jejak Kristus karya Thomas A  Kempis memang sangat tepat, di mana Thomas mengatakan “Seorang petani yang rendah hati itu lebih berharga daripada seorang filsuf yang sombong”. Seorang filsuf yang sombong yang pada masa itu dapat menerangkan bagaimana terjadinya alam semesta, seorang penguasa segala ilmu pengetahuan maka sekarangpun kita dapat berkata bahwa seorang sederhana yang mempunyai iman lebih berharga daripada seorang ahli fisika/nuklir yang termasyhur yang tidak memiliki iman. Seorang apapun yang hebat tetapi tidak mengakui Allah tetapi orang sederhana jauh lebih berharga.

    Jika kita renungkan mungkin di dalam surga kelak, kita mendapat surprises bahwa orang yang tidak kita pandang sebelah mata, orang-orang sederhana mungkin mendapatkan kedudukan yang jauh di atas kita. Mungkin yang di dunia ini sangat dihormati, mungkin pasti hanya berada di belakang pintu saja ‘kalau masih diperkenankan masuk’, kadangkala kita silau oleh itu semua. Orang-orang sederhana tetapi yang sungguh beriman itu jauh lebih berharga. Seorang petani yang melayani Allah lebih baik daripada seorang filsuf yang mempelajari dan menyelidiki segala macam rahasia alam semesta tetapi melalaikan pengenalan diri sendiri.
 
    Thomas A Kempis mengatakan “Dia yang mengenal dirinya sendiri menyadari kekecilannya, kehinaannya dan tidak mencari dan tidak senang akan puji-pujian orang lain”. Orang-orang yang terpelajar senang dianggap terpelajar serta senang diberi gelar tetapi di hadapan Allah sama sekali tidak ada artinya. Karena itu Thomas A Kempis menyatakan “Seandainya engkau ingin belajar sesuatu yang berguna mencinta dan senang untuk tidak dikenal dan dipandang sebagai orang yang tidak berharga”. Maka kamu akan menemukan kerendahan hati dan tidak menyombongkan diri. Belajar untuk tidak dikenal dan tidak dianggap apa-apa. “Kalau engkau melihat orang lain yang melakukan kesalahan bahkan melakukan dosa yang berat. Engkau tidak usah menganggap dirimu lebih baik, engkau tidak tahu berapa lama engkau tidak akan jatuh dalam dosa yang sama atau berapa lama engkau akan bertekun dan bahkan seandainya Tuhan tidak memberikan rahmat khusus padamu, apakah engkau tidak akan jatuh?”

    Kalau kita melihat banyak umat, banyak awam atau banyak anak muda jatuh dalam pelbagai macam dosa yang mengerikan. “Kalau dipikir seandainya saya berada dalam situasi mereka apakah saya akan menjadi lebih baik atau mungkin lebih jahat dan kalau tidak diberikan rahmat, pastilah keadaan saya akan sangat mengerikan!” Maka jika kita dilindungi dari pelbagai macam dosa itu bukan jasamu tetapi semata-mata karena rahmat Allah. Kita semua lemah dan kita tidak tahu apakah kita bisa bertekun sampai akhir karena itu juga betapa pentingnya tiap hari berdoa mohon rahmat ketekunan. Apakah gunanya kita yang memiliki panggilan ini bahkan sampai pesta perakpun tetapi sesudahnya meninggalkan Allah. Itu semua terjadi karena ketidaksetiaan-ketidaksetiaan yang kecil-kecil yang kita abaikan kemudian menjadi besar.
 
    Kita perlu merenungkan hal ini, apabila kita merenungkan ini kita tidak akan menjadi sombong. Jangan malu untuk dipandang remeh, untuk dipandang kecil dan untuk dipandang tidak berharga. Karena itu kita lihat orang seringkali malu dan takut kalau nanti tidak dihargai dan sebagainya. Tetapi baiklah kita menyadari kebaikan Tuhan. “Allah meninggikan orang yang rendah hati dan merendahkan orang yang sombong. Jangan menganggap dirimu sendiri lebih baik daripada orang lain, sebab jangan-jangan engkau dianggap lebih jahat daripada orang lain dalam pandangan Allah. Sebab apa yang mulia dalam pandangan manusia seringkali merupakan kejijikan dalam pandangan Allah. Dan apa yang menyenangkan manusia seringkali tidak berkenan kepada Allah”.

    Maka damai yang sejati ialah akan tinggal pada orang yang rendah hati sedangkan dalam hati orang yang sombong sering ada iri hati, kekecewaan dan kemarahan. Orang yang rendah hati akan dilindungi dan dihibur oleh Allah dan Allah menyatakan misteri-Nya kepada orang-orang kecil, seperti yang dikatakan Yesus “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat. 11:25). Jadi renungan-renungan kitab suci ini menyadarkan kita. Kalau kita belajar supaya semakin menyadari ketergantungan kita dari Allah.
 
5. Pemurnian Pasif, Jalan Efektif untuk Menyembuhkan Kesombongan

    Teologia adalah ilmu tentang Allah, Teo berarti Allah dan Logos artinya adalah ilmu. Maka kalau kita mengenal Allah maka makin mengenal diri sendiri dan tidak menjadi sombong. Ini merupakan usaha-usaha yang dapat kita lakukan secara aktif. Merenungkan sekurang-kurangnya kalau kita merenungkan dengan sungguh-sungguh dan menyadari serta tiap-tiap kali diingatkan kembali sekurang-kurangnya kita tidak berani lagi menyombongkan diri. Namun supaya dapat mencapai kerendahan hati yang sejati yang merupakan lawan dari kesombongan kita perlu dimurnikan. Apa yang kita lakukan sendiri itu tidak cukup perlu pemurnian yang pasif melalui karunia Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam diri kita.

    Dimana oleh karunia Roh Kudus itu kita boleh menyadari kerapuhan kita yang mendalam, menyadari kerapuhan yang begitu besar oleh terang Roh Kudus. Karena itu menurut St. Teresa Avila: “Pengenalan akan Allah yang sejati itu menghilangkan kesombongan dan membuat orang makin rendah hati”, ibarat sebuah kain yang kotor kalau diletakkan di antara kain-kain yang putih, makin kelihatan kotornya atau misalnya pada malam hari mandi di selokan atau di sungai karena tidak kelihatan karena gelap airnya dikira segar dan bersih tetapi kalau pagi atau siang hari kelihatan kotornya.
 
    Demikian juga orang akan menganggap dirinya itu hebat selama ia belum diterangi oleh cahaya Roh Kudus. Begitu terang Allah menerangi kita maka kita melihat kekotoran diri sendiri. Karena itu kerendahan hati yang sejati akan lebih dalam dan besar dicapai melalui pengalaman Allah dan Allah kadang-kadang merendahkan kita dengan pelbagai macam cara, seperti pemazmur berkata: “Sungguh baik Engkau telah merendahkan aku supaya aku belajar keadilan-Mu atau ketetapan-Mu (Lih. Mzm. 119:71). Oleh karena itu, kalau kadang-kadang kita mengalami tantangan, kalau kita direndahkan itu adalah baik. Kalau kita difitnah yakni hal-hal yang tidak benar dan jahat diarahkan kepada kita atau bila orang memandang remeh kepada kita sebenarnya itu adalah suatu rahmat. Merupakan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam kerendahan hati dan membebaskan kita dari kecongkakan atau dari keangkuhan.

    Dalam penderitaan dan salib-salib kita belajar ‘Siapa kita ini’, belajar mengenal diri sendiri bahwa tanpa rahmat Allah kita tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam hal ini kita lihat Nabi Elia, seorang Nabi yang besar ketika berada di Gunung Karmel. Seorang diri menghadapi seluruh bangsa Israel dan menghadapi 400 nabi Baal, ia tegar dan tidak takut siapapun karena Tuhan menyertai dia dan rahmat Tuhan hadir sungguh-sungguh dalam dirinya sehingga ia dengan penuh keyakinan dapat berkata: “Biar kita adakan semacam pertandingan, siapa persembahan yang dijawab oleh api dari surga, Allahnyalah yang benar” (Lih. 1 Raj. 18:20-46). Dengan penuh keyakinan Elia menantang bangsa Israel dan menantang nabi Baal karena rahmat Allah menyertai dia secara istimewa. Setelah itu Tuhan mengajar dia ketika dalam pencobaan di padang pasir seolah-olah Allah meninggalkan dia. Kita lihat Elia yang tertidur dan berputus asa serta berkata “Aku tidak lebih baik dari nenek moyangku, biarlah aku mati saja (Lih. 1 Raj. 21:3). Seolah-olah kita kaget dan bertanya “Mana Elia yang gagah perkasa, yang berkobar-kobar dan mendatangkan api dari langit?” hanya karena ancaman Izebel saja, Elia sudah putus asa. Di sinilah Allah mengajar Elia tentang ‘siapa dia itu tanpa rahmat Allah?’. Dan Elia membiarkan dirinya diajar oleh Allah karena itu ia dapat bertekun sampai akhir.

6. Penutup

    Jika kita membiarkan diri dimurnikan oleh Allah tanpa meronta-ronta maka perlahan-lahan dampak-dampak dari kesombongan itu akan hilang dalam diri kita dan kita tidak akan terganggu lagi oleh kesombongan dan akan beristirahat dalam kerendahan hati. Kita tidak akan dipengaruhi apa kata orang, kita tidak akan dipengaruhi baik oleh sanjungan-sanjungan, kalaupun disanjung-sanjung kita tidak akan lupa daratan dan kita tidak akan putus asa kalau kita dimusuhi, direndahkan dan diremehkan serta dihina. Kita akan mulai bergembira atas kebaikan yang kita lihat dalam diri orang lain. Kita akan mulai bersukacita kalau orang lain berbuat sesuatu yang baik bukannya iri hati.
 
    Pengenalan Allah akan membawa kita untuk mengatasi kesombongan dan sampai pada kerendahan hati, baiklah itu semua direnungkan, diresap-resapkan sebab kalau kita menjadi sombong maka hanya kebinasaan yang menjadi bagian dalam kita seperti yang dikatakan dalam kitab suci “Allah menentang orang yang sombong tetapi meninggikan orang yang rendah hati dan Allah berkenan kepada orang yang rendah hati”. Dari pihak kita, kita melakukan apa yang dapat kita lakukan maka Tuhan akan menolong kita dan mulai mengerti betapa berharganya penderitaan dan salib itu. Bila kita direndahkan, dan difitnah, kita mengerti bahwa kita dimurnikan dan ini lebih baik daripada segala yang lain.
 
 
Rm. Yohanes Indrakusuma
penulis tetap di situs carmelia.net 
 
^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar