
Perdukunan di Indonesia semakin marak dan semakin canggih. Lihat saja majalah-majalah dan acara-acara tivi. Dukun-dukunnya pun semakin canggih, mulai dari yang menggunakan HP sampai yang telah memiliki situs Internet sendiri.
Kalau kita baca iklan-iklannya, mereka menawarkan hal-hal seperti ingin sembuh, enteng jodoh, sukses, lulus ujian, dapat anak, cepat kaya, dapat proyek; bahkan tawaran bagi mereka yang ingin jadi sakti pun ada. Kalau ada keributan dalam rumah tangga pun para wong pinter ini, bisa dan mampu memberikan konseling secara jarak jauh maupun dekat.
Coba renungkan dan jawab dengan jujur, bukankah sebagian besar umat kristiani pergi ke gereja dan berdoa juga dengan harapan dan tujuan yang sama? Yaitu untuk memuaskan keinginan kedagingan dan keduniawian kita.
Hal ini diketahui benar, bukan oleh Mang Ucup saja, melainkan oleh si setan. Karena itulah akhirnya banyak roh kuda maupun roh kudis yang masuk ke dalam pelayanan di gereja, sehingga banyak Hamba Tuhan yang mempunyai pekerjaan rangkap-selain jadi Hamba Allah juga jadi hamba setan.
Di akhir tahun 80 kita mendengar seorang dokter juga berfungsi sebagai dukun, sehingga keluarlah istilah "Terkun". Mang Ucup juga ingin memberi istilah baru, yaitu "Pekun". Bukan pikun karena sudah lansia, melainkan menjadi Pekun karena kema¬sukan roh kudis di mana si Hamba Tuhan juga berfungsi sebagai Dukun (PEndeta duKUN).
Mengapa demikian? Karena pendeta/ romo zaman sekarang punya hobi meramal! kwamiah, yang dalam bahasa Alkitab disebut "bernubuat". Dengan kemampuan ini otomatis si pendeta/romo bisa menaikkan pamornya sebagai seorang Nabi, sebab inilah gelar tertinggi yang didambakan oleh kebanyakan Hamba Tuhan, di samping itu akan diakui kesaktiannya. Bagi pendeta/ romo yang belum memiliki karunia bernubuat, berarti Anda masih tergolong kelas bawah alias kelas kolong-belum elit.
Coba renungkan, bagaimana bahagianya seorang Pertu (perawan tua) bila pada suatu saat sang pendeta/romo datang kepadanya dan bersabda: "Aku mendengar Roh Kudus/Tuhan berkata" bahwa doa kamu telah dikabulkan sehingga dalam waktu dekat ini kamu akan ketemu sang pangeran yang tidak kalah guaantengnya dengan Tao Mingshe dari F4.
Apakah hati sang gadis tidak akan berapi-api setelah mendengar sabda sang penjual serabi eh nabi itu? Apalagi kalimat tersebut diawali dengan kata-kata "Aku mendengar Tuhan berkata" atau diakhiri dengan "Demikianlah firman Tuhan".
Apakah Anda sebagai anggota jemaat berani meragukan nubuat seorang Hamba Tuhan? Apakah Anda berani meragukan sabda Allah atau firman-Nya? Apalagi isi nubuat ini benar-benar sangat menyenangkan hati si pendengar, seperti kejatuhan durian di siang hari bolong!
Setelah mendengar berita gembira ini, pasti si gadis akan sesumbar ke mana-mana untuk memuji kesaktian si pendeta/ romo, dan niatan untuk memberikan perpuluhan (10%) bulan ini diubah menjadi 1.000% maka everi bodi heppi-lah, si pendeta/ romo dapat Pupu (Pujian & Pulus), si gadis dapat dream!
Hanya sayangnya, setelah ditunggu sekian tahun boro-boro sang pangeran yang mirip Tao Mingshe, pria yang bopeng mirip Tao-Co saja tidak pemah muncul! Sehingga akhimya gadis itu merasa dikecewakan, Ia merasa dibohongi dan ditipu oleh Allah; sementara sang pendeta/ romo itu sendiri sudah lupa dengan apa yang ia ucapkan.
Bagaimana kalau Mang Ucup juga meniru gaya mereka: "Aku mendengar Tuhan berkata bahwa salah satu pembaca artikel ini, sedang mempunyai pergumulan yang berat, di mana salah satu anggota keluarga yang dikasihinya sedang menderita sakit berat; doa Anda sudah dikabulkan, sehingga dalam waktu dekat ini akan sembuh!-Puji Tuhan Haleluya!"
Ini namanya win-win solution, karena pada saat ini Mang Ucup bergabung di lebih dari 15 milis, sehingga tulisan Mang Ucup dibaca oleh ribuan orang tiap hari. Apakah tidak mungkin dari sekian ribu orang ini ada yang anggota keluarganya kebenaran sedang sakit. Kalau ternyata nubuat Mang Ucup ini menjadi kenyataan, apakah Mang Ucup tidak akan dinilai sakti, sehingga mulai esok sudah bisa menyandang gelar Nabi Ucup.
Namun sebaliknya, bila ini tidak benar, mana ada yang tahu ... sebab yang membaca artikel Mang Ucup ada di seluruh jagat raya. Apa pun hasilnya, pasti Mang Ucup selalu dinilai sakti dan masuk di kelas para selebritis nabi-nabi karena telah memiliki karunia "bernubuat", bukan sekadar karunia LU-buat.
2. Pendeta vs Psikolog

Menurut dr. Rusli Maslim dari Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial ternyata lebih dari 25% penduduk Indonesia mengidap penyakit jiwa. Namun di lain pihak, hanya tersedia 420 ahli kejiwaan untuk 210 juta penduduknya (Smg 10/07/ 2001).
Oleh sebab itu para Hamba Tuhan bukan sekadar dituntut harus pinter khotbah, tetapi juga harus bisa menjadi konselor untuk berbagai macam masalah, mulai dari masalah rumah tangga, seks, keuangan, hukum, sampai narkoba; maka itu Hamba Tuhan bukan hanya berfungsi sebagai ahli teologi, melainkan juga harus bisa berfungsi sebagai ahli seksologi sampai psikologi.
Mang Ucup saat ini juga lagi mengalami krisis kejiwaan, stres berat, sebab kenyataannya selainnya memiliki si Wid (Wanita Idaman Di rumah) masih ada tabungan/simpanan si Wil (Wanita Idaman Luar-rumah). Hal ini mengakibatkan Mang Ucup menjadi pusing tujuh keliling. Yang menjadi pertanyaan:
Untuk mengatasi masalah gangguan jiwa ini-apakah sebaiknya Mang Ucup minta bantuan seorang psikolog ataukah Hamba Tuhan?"
Kelebihan dari Hamba Tuhan, kita bisa dapat bantuan gratisan; tetapi di lain pihak, apakah Hamba Tuhan bisa dan mampu membantu orang yang lagi mengalami gangguan jiwa.
Untuk jiwa yang SESAT, pasti bisa dibantu. Tetapi bagaimana yang dengan jiwa yang SAKIT? Lagipula apabila pak Pendeta mengetahui belang atau aslinya Mang Ucup, apakah masih mungkin Mang Ucup bisa dipilih menjadi panatua gereja? Belum lagi Mang Ucup khawatir nantinya bisa menjadi topik utama dalam bursa gosip pergunjingan di gereja sehingga akhirnya si Wid bisa tahu bahwa Mang Ucup masih memiliki tabungan/ simpanan tidak resmi.
Memang benar Hamba Tuhan maupun psikolog bisa memberikan konseling yang sama, akan tetapi saya yakin pasti akan berbeda dari sudut pandangnya. Sudut pandang Hamba Tuhan kagak bisa ditawar dan kagak ada ampun, pasti langsung divonis dan dicap sebagai jiwa yang berdosa. Jadi kambing hitamnya jelas ada di pihak Mang Ucup, karena itu jalan penyelasaian dan jalan satu-satunya adalah bertobat dan berdoa!
Sedangkan dari sudut pandang seorang psikolog, mungkin mereka akan menganalisa dan menilai bahwa Mang Ucup itu ketika masa kanak-kanaknya kurang mendapatkan kasih sayang dari pihak Ibu, karena itu wajar ketika dewasa ingin mencari kasih sayang ekstra. Di samping itu, bukankah prinsip ajaran utama dari umat kristiani adalah kasih? Oleh karena itu, apa salahnya kalau Mang Ucup ingin mengasihi lebih dari satu orang istri?
Maka dari itulah kalau mencari istri sebaiknya yang bernama Sara, sebab telah terbukti istri Abraham itu penuh dengan pengertian.
Pendeta adalah seorang teolog, inti dan misi utamanya bukanlah mengurus dan melayani jiwa yang sakit, melainkan melayani Allah; beda dengan sang Psikolog di mana jelas inti dan misi utamanya ialah jiwa (psikhe). Walaupun demikian, bila kita mengalami stres berat atau masalah gangguan jiwa, kepada siapa sebaiknya kita meminta bantuan, apakah kepada Pendeta ataukah kepada psikolog?
Menurut dr. Rusli Maslim dari Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial ternyata lebih dari 25% penduduk Indonesia mengidap penyakit jiwa. Namun di lain pihak, hanya tersedia 420 ahli kejiwaan untuk 210 juta penduduknya (Smg 10/07/ 2001).
Oleh sebab itu para Hamba Tuhan bukan sekadar dituntut harus pinter khotbah, tetapi juga harus bisa menjadi konselor untuk berbagai macam masalah, mulai dari masalah rumah tangga, seks, keuangan, hukum, sampai narkoba; maka itu Hamba Tuhan bukan hanya berfungsi sebagai ahli teologi, melainkan juga harus bisa berfungsi sebagai ahli seksologi sampai psikologi.
Mang Ucup saat ini juga lagi mengalami krisis kejiwaan, stres berat, sebab kenyataannya selainnya memiliki si Wid (Wanita Idaman Di rumah) masih ada tabungan/simpanan si Wil (Wanita Idaman Luar-rumah). Hal ini mengakibatkan Mang Ucup menjadi pusing tujuh keliling. Yang menjadi pertanyaan:
Untuk mengatasi masalah gangguan jiwa ini-apakah sebaiknya Mang Ucup minta bantuan seorang psikolog ataukah Hamba Tuhan?"
Kelebihan dari Hamba Tuhan, kita bisa dapat bantuan gratisan; tetapi di lain pihak, apakah Hamba Tuhan bisa dan mampu membantu orang yang lagi mengalami gangguan jiwa.
Untuk jiwa yang SESAT, pasti bisa dibantu. Tetapi bagaimana yang dengan jiwa yang SAKIT? Lagipula apabila pak Pendeta mengetahui belang atau aslinya Mang Ucup, apakah masih mungkin Mang Ucup bisa dipilih menjadi panatua gereja? Belum lagi Mang Ucup khawatir nantinya bisa menjadi topik utama dalam bursa gosip pergunjingan di gereja sehingga akhirnya si Wid bisa tahu bahwa Mang Ucup masih memiliki tabungan/ simpanan tidak resmi.
Memang benar Hamba Tuhan maupun psikolog bisa memberikan konseling yang sama, akan tetapi saya yakin pasti akan berbeda dari sudut pandangnya. Sudut pandang Hamba Tuhan kagak bisa ditawar dan kagak ada ampun, pasti langsung divonis dan dicap sebagai jiwa yang berdosa. Jadi kambing hitamnya jelas ada di pihak Mang Ucup, karena itu jalan penyelasaian dan jalan satu-satunya adalah bertobat dan berdoa!
Sedangkan dari sudut pandang seorang psikolog, mungkin mereka akan menganalisa dan menilai bahwa Mang Ucup itu ketika masa kanak-kanaknya kurang mendapatkan kasih sayang dari pihak Ibu, karena itu wajar ketika dewasa ingin mencari kasih sayang ekstra. Di samping itu, bukankah prinsip ajaran utama dari umat kristiani adalah kasih? Oleh karena itu, apa salahnya kalau Mang Ucup ingin mengasihi lebih dari satu orang istri?
Maka dari itulah kalau mencari istri sebaiknya yang bernama Sara, sebab telah terbukti istri Abraham itu penuh dengan pengertian.
Pendeta adalah seorang teolog, inti dan misi utamanya bukanlah mengurus dan melayani jiwa yang sakit, melainkan melayani Allah; beda dengan sang Psikolog di mana jelas inti dan misi utamanya ialah jiwa (psikhe). Walaupun demikian, bila kita mengalami stres berat atau masalah gangguan jiwa, kepada siapa sebaiknya kita meminta bantuan, apakah kepada Pendeta ataukah kepada psikolog?
3. Budaya Sungkem dan Bungkem

Harus diakui bahwa para pejabat tinggi di Indonesia sering mendapatkan penghormatan seperti layaknya para Raden dan Sultan di zaman baheula. Lihat saja kalau pejabat tinggi berkujung ke daerah, seakan-akan kita harus sungkem di hadapannya. Maka dari itu sudah sewajarnyalah kalau kita tidak mempunyai hak untuk buka mulut alias kudu bungkem atau nrimo saja semua yang diucapkan maupun diperintahkan oleh junjungan kita.
Budaya bungkem atau budaya bisu sudah merupakan kewajiban mutlak ketika zaman Orba. Selama 30 tahun lebih kita harus bungkem, kalau kagak mau dicap sebagai PKI atau pemberontak. Kalau berani demo atau buka mulut, bisa-bisa Anda akan di" dor" atau di-pulau-Buru-kan. Dan baru pada zaman reformasi inilah kita mulai berani buka mulut dan melakukan demo-tetapi reformasi ini pada kenyataannya kagak bisa masuk ke dalam gereja.
Kalau Anda sebagai jemaat berani buka mulut dan terlalu vokal di gereja, maka Anda akan dicap pemberontak atau anggota PKl, alias "Persekutuan Keluarga Iblis". Anda diperkenankan mengeluarkan suara keras hanya untuk bernyanyi. Selain itu, sebaiknya bungkem alias tutup mulut. Kalau Anda berani melawan peraturan yang tidak diucapkan ini, Anda bisa di kucilkan atau dikecam keras dari atas mimbar, bahkan bisa diusir dari gereja.
Banyak para Pendeta yang merasa dirinya seperti Mega Star. Tanpa owe, hmm... gereja ini akan kosong. Kalau owe khotbah, dijamin ribuan orang akan datang. Di samping itu, ini gereja kan punyanya owe juga, minimal sudah diatasnamakan yayasan yang notabene diketuai oleh istri owe juga.
Apalagi para pembimbing agama ini sudah mempunyai ayat-ayat penyumpal mulut. Apakah Anda masih meragukan firman Allah dan kebenaran yang tercantum di dalam Alkitab? "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka" (Ibrani 13:17) atau "tiap orang harus takluk kepada atasannya" (Roma 13:1-2) atau "tunduklah kepada orang-orang yang tua" (1 Petrus 5:5). Dengan ketiga ayat ini saja sudah cukup dijadikan instrumen untuk memberangus mulut umatnya.
Alasan yang paling penting dan paling utama kenapa Anda harus bungkem dan nurut kepada pendeta adalah karena ia seorang Pendeta. Apakah Anda masih meragukan otoritasnya? Kalau Anda berani mengkritik seorang pendeta, maka dosanya sama beratnya seperti kalau Anda mengkritik Allah, sebab pendeta itu adalah orang yang telah diurapi Allah.
Ajaran, kritikan, dan kecaman hanya boleh one way direction. Jadi jurusannya hanya boleh dari atas mimbar ke bawah, bukan kebalikannya. Lebih baik bersikap manis dan selalu mengembik "amin" sesuai dengan ajarannya pak Gem.
Banyak anggota jemaat dari berbagai aliran gereja bukannya di bebaskan dari segala macam beban, malah sebaliknya diperberat dan ditambah dengan bermacam-macam doktrin yang bukan hanya memberatkan, tetapi juga sudah merupakan doktrin sesat. Walaupun demikian, jangan sekali-sekali Anda berani mencoba mempertanyakan kebenarannya doktrin itu, sebab dengan demikian Anda sudah bisa dicap sebagai pemberontak. Janganlah jadi pengacau, pertahankanlah suasana damai dan tunduklah kepada para pembimbing gereja. Ini adalah perintah Allah langsung. Kalau belum yakin juga, bacalah: Matius 5:9, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah"; Filipi 2:2, "Untuk itu hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan"; Efesus 4:3, "Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera".
Apakah Anda masih belum yakin akan pengetahuan yang dimiliki oleh pak Pendeta? Apakah Anda masih belum yakin akan deretan titel dan gelarnya? Oleh karena itu, sebelum Anda buka mulut, sebaiknya Anda ngaca dahulu dan tanyalah siapakah diri Anda ini?
Para jemaat itu bisa disamakan dengan pesakitan atau kaum terdakwa, yang berdosa, yang tiap minggu harus disadarkan dan di-brain washing, agar selalu ingat bahwa dosa kita itu bejibun, sedangkan pak Pendeta itu hakimnya. Karena itu banyak pendeta yang pake toga, seperti hakim di pengadilan, dengan mana otoritasnya jadi lebih kelihatan dan lebih berwibawa. Ingat tidak ada undang-undang maupun peraturan di kolong langit ini bahwa pesakitan mau mengadili pak Hakimnya sendiri.
Sebagai tes cobalah Anda mulai melakukan demo kecil-kecilan, dengan mempertanyakan uang persembahan atau uang kolekte-berapa jumlah uang yang diterima secara keseluruhan, digunakan untuk apa saja, berapa besar bagiannya pak Pendeta. Uang kolekte mingguan sih mudah dihitung dengan jelas, tetapi bagaimana dengan uang perpuluhan yang jumlahnya jauh lebih besar dan terkadang tidak jelas ke mana mengalirnya.
Sesungguhnya dari wong cilik sampai wong gede, semuanya hanya mengejar duit melulu, baik yang dinamakan nabi maupun imam, semuanya melakukan tipu!
Mungkin Anda akan menilai bahwa kata-kata Mang Ucup di atas udah kebangetan dan terlalu keras. Perlu diketahui bahwa ini bukan ucapan Mang Ucup lho, saya hanya sekadar penyambung lidah saja dari Sang Pencipta. Kagak percaya? Baca Yeremia 6: 13: "Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, semuanya mengejar untung, baik nabi maupun imam semuanya melakukan tipu."

Harus diakui bahwa para pejabat tinggi di Indonesia sering mendapatkan penghormatan seperti layaknya para Raden dan Sultan di zaman baheula. Lihat saja kalau pejabat tinggi berkujung ke daerah, seakan-akan kita harus sungkem di hadapannya. Maka dari itu sudah sewajarnyalah kalau kita tidak mempunyai hak untuk buka mulut alias kudu bungkem atau nrimo saja semua yang diucapkan maupun diperintahkan oleh junjungan kita.
Budaya bungkem atau budaya bisu sudah merupakan kewajiban mutlak ketika zaman Orba. Selama 30 tahun lebih kita harus bungkem, kalau kagak mau dicap sebagai PKI atau pemberontak. Kalau berani demo atau buka mulut, bisa-bisa Anda akan di" dor" atau di-pulau-Buru-kan. Dan baru pada zaman reformasi inilah kita mulai berani buka mulut dan melakukan demo-tetapi reformasi ini pada kenyataannya kagak bisa masuk ke dalam gereja.
Kalau Anda sebagai jemaat berani buka mulut dan terlalu vokal di gereja, maka Anda akan dicap pemberontak atau anggota PKl, alias "Persekutuan Keluarga Iblis". Anda diperkenankan mengeluarkan suara keras hanya untuk bernyanyi. Selain itu, sebaiknya bungkem alias tutup mulut. Kalau Anda berani melawan peraturan yang tidak diucapkan ini, Anda bisa di kucilkan atau dikecam keras dari atas mimbar, bahkan bisa diusir dari gereja.
Banyak para Pendeta yang merasa dirinya seperti Mega Star. Tanpa owe, hmm... gereja ini akan kosong. Kalau owe khotbah, dijamin ribuan orang akan datang. Di samping itu, ini gereja kan punyanya owe juga, minimal sudah diatasnamakan yayasan yang notabene diketuai oleh istri owe juga.
Apalagi para pembimbing agama ini sudah mempunyai ayat-ayat penyumpal mulut. Apakah Anda masih meragukan firman Allah dan kebenaran yang tercantum di dalam Alkitab? "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka" (Ibrani 13:17) atau "tiap orang harus takluk kepada atasannya" (Roma 13:1-2) atau "tunduklah kepada orang-orang yang tua" (1 Petrus 5:5). Dengan ketiga ayat ini saja sudah cukup dijadikan instrumen untuk memberangus mulut umatnya.
Alasan yang paling penting dan paling utama kenapa Anda harus bungkem dan nurut kepada pendeta adalah karena ia seorang Pendeta. Apakah Anda masih meragukan otoritasnya? Kalau Anda berani mengkritik seorang pendeta, maka dosanya sama beratnya seperti kalau Anda mengkritik Allah, sebab pendeta itu adalah orang yang telah diurapi Allah.
Ajaran, kritikan, dan kecaman hanya boleh one way direction. Jadi jurusannya hanya boleh dari atas mimbar ke bawah, bukan kebalikannya. Lebih baik bersikap manis dan selalu mengembik "amin" sesuai dengan ajarannya pak Gem.
Banyak anggota jemaat dari berbagai aliran gereja bukannya di bebaskan dari segala macam beban, malah sebaliknya diperberat dan ditambah dengan bermacam-macam doktrin yang bukan hanya memberatkan, tetapi juga sudah merupakan doktrin sesat. Walaupun demikian, jangan sekali-sekali Anda berani mencoba mempertanyakan kebenarannya doktrin itu, sebab dengan demikian Anda sudah bisa dicap sebagai pemberontak. Janganlah jadi pengacau, pertahankanlah suasana damai dan tunduklah kepada para pembimbing gereja. Ini adalah perintah Allah langsung. Kalau belum yakin juga, bacalah: Matius 5:9, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah"; Filipi 2:2, "Untuk itu hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan"; Efesus 4:3, "Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera".
Apakah Anda masih belum yakin akan pengetahuan yang dimiliki oleh pak Pendeta? Apakah Anda masih belum yakin akan deretan titel dan gelarnya? Oleh karena itu, sebelum Anda buka mulut, sebaiknya Anda ngaca dahulu dan tanyalah siapakah diri Anda ini?
Para jemaat itu bisa disamakan dengan pesakitan atau kaum terdakwa, yang berdosa, yang tiap minggu harus disadarkan dan di-brain washing, agar selalu ingat bahwa dosa kita itu bejibun, sedangkan pak Pendeta itu hakimnya. Karena itu banyak pendeta yang pake toga, seperti hakim di pengadilan, dengan mana otoritasnya jadi lebih kelihatan dan lebih berwibawa. Ingat tidak ada undang-undang maupun peraturan di kolong langit ini bahwa pesakitan mau mengadili pak Hakimnya sendiri.
Sebagai tes cobalah Anda mulai melakukan demo kecil-kecilan, dengan mempertanyakan uang persembahan atau uang kolekte-berapa jumlah uang yang diterima secara keseluruhan, digunakan untuk apa saja, berapa besar bagiannya pak Pendeta. Uang kolekte mingguan sih mudah dihitung dengan jelas, tetapi bagaimana dengan uang perpuluhan yang jumlahnya jauh lebih besar dan terkadang tidak jelas ke mana mengalirnya.
Sesungguhnya dari wong cilik sampai wong gede, semuanya hanya mengejar duit melulu, baik yang dinamakan nabi maupun imam, semuanya melakukan tipu!
Mungkin Anda akan menilai bahwa kata-kata Mang Ucup di atas udah kebangetan dan terlalu keras. Perlu diketahui bahwa ini bukan ucapan Mang Ucup lho, saya hanya sekadar penyambung lidah saja dari Sang Pencipta. Kagak percaya? Baca Yeremia 6: 13: "Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, semuanya mengejar untung, baik nabi maupun imam semuanya melakukan tipu."

Pertama-tama, saya hendak memohon maaf karena ternyata oret-oretan saya telah membuat banyak orang tersinggung, karena itu rasanya tidaklah fair kalau kita mengkategorikan bahwa semua pendeta itu mata duitan dan mengabdi hanya demi kepentingan pribadinya semata-mata. Apa yang saya tulis mungkin hanya beberapa orang di antara mereka; seperti dalam suatu keluarga besar, tidak semua anak bisa menjadi baik, salah satu dari mereka bisa saja menjadi kambing hitam keluarga. Kambing hitam bukan hanya ada di kalangan umat kristiani saja, tetapi di semua agama pun ada. Tetapi apakah kita harus meneruskan budaya bisu atau budaya "sungkem dan bungkem" seperti pada era Soeharto?
Saya mengenal banyak pendeta/romo yang benar-benar tidak mengenal waktu, khusus untuk melayani umatnya, sehingga kesehatan dirinya saja tidak digubris. Ia rela mengorbankan apa yang ia miliki demi melayani Tuhan, sehingga untuk makan tiga kali sehari saja tidak ada uang, walaupun demikian ia tidak pemah mengeluh. Ia sering berpuasa, bukannya secara sukarela, tetapi karena keadaan yang memaksanya.
Banyak pendeta yang berasal dari para profesional top, yang dahulunya pengacara, akuntan, dokter, dan sebagainya, yang tadinya bisa menerima honor per jam US$ 200 bahkan mungkin lebih daripada itu, tetapi mereka berbalik haluan dan meninggalkan profesinya khusus untuk mengadikan dirinya untuk Tuhan. Mereka bersedia menjalankan kehidupan seperti tukang kayu.
Berapa banyak pendeta maupun romo yang telah mencapai gelar akademis yang tertinggi, tetapi malah memilih hidup di pedalaman, di desa, maupun di hutan belantara. Saya juga mengenal seorang pendeta yang selalu bertanya, "Adakah yang bisa saya bantu?" Dan, ini bukan sekadar lip service. Ia benar-benar rela dan mau memberikan dan membagikan apa saja yang ia miliki, sedangkan penghasilannya sangat minim, sehingga tidak tahu apa yang harus dimakan esok hari. Walaupun demikian, ia tidak penah mengemis apalagi menagih kepada jemaatnnya untuk memberikan perpuluhan maupun persembahan.
Mereka tidak hanya sesumbar dan berkoar-koar mengajar kasih, tetapi mereka mempraktikkan kasih itu. Kehidupan mereka adalah cermin dari ajarannya sendiri. Mereka tidak mampu membuat mukjizat-mukjizat yang spektakuler, tetapi mempunyai kelembutan hati maupun kasih yang sedemikian besar sehingga bisa memberikan keteduhan bagi mereka yang membutuhkannya. Mereka memilih gedung gereja tua yang lapuk, bahkan di gubuk-gubuk untuk berkhotbah daripada di gereja yangfull AC dan berlantai marmer. Mereka tidak perlu berkhotbah di hotel berbintang-di bawah bintang pun jadi, secara open air! Mereka tidak ingin menginjili umat yang berada di USA, Eropa, Australia, maupun Singapore, karena mereka tahu bahwa masih banyak orang yang benar-benar haus dan membutuhkan mereka terutama di pedalaman, di kampung kumuh di tanah air sendiri.
Saya kenal banyak pendeta / romo yang melayani dan mengabdikan dirinya khusus untuk melayani anak-anak jalanan, para napi di penjara, melayani anak-anak cacat mental maupun di rumah sakit jiwa, bahkan mengorbankan hidup dan kesehatannya sendiri khusus untuk melayani para penderita penyakit kusta/lepra. Nama mereka tidak akan pemah dicantumkan di koran maupun di TV, tetapi saya yakin nama mereka telah dicantumkan di buku kehidupan di surga. Orang seperti mereka bukan hanya satu-dua saja, bahkan ribuan. Di mata dunia mereka semua itu Mr. Nobody, tetapi di mata Tuhan mereka adalah para VIP dari warga surga.
Kita pun mengetahui bahwa banyak romo/pendeta yang bukan hanya mengorbankan harta maupun kesehatannya, tetapi juga mengorbankan jiwa dan ra ganya; mereka bersedia dihukum dengan hukuman penjara, siksaan badan, bahkan dibunuh demi kepercayaannya dalam menjalankan tugas sebagai Hamba Allah! Seperti pendeta yang dibakar bersama gerejanya atau romo yang mati dibunuh di Pasa maupun Ambon.
Saya salut kepada mereka yang benar-benar mengabdikan dirinya dan berkorban untuk Tuhan. Untuk mereka saya mendoakan agar Tuhan memberikan berkat yang berlimpah dan kekuatan dalam menjalan misi dan pengabdiannya
**** Wacana akhir***
saya menulis ini bukanlah untuk memojokkan gereja atau Hamba Tuhan tertentu-mana pun juga.
Para Hamba Tuhan sekarang sering menamakan dirinya dengan sebutan Gembala Sidang, dan panggilan Gembala itu sebenarnya sangatlah mulia, sehingga Allah dalam Perjanjian Lama berulang-ulang melukiskan diri-Nya sebagai Gembala Israel: "Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk- induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati" (Yesaya 40:11).
Gembala dalam arti harfiah mengemban panggilan tugas yang banyak tuntutannya. Ia harus mencari rumput di daerah yang kering dan berbatu-batu, harus melindungi kawanan domba gembalaannya terhadap cuaca buruk dan binatang buas, dan harus bisa mencari dan membawa kembali domba yang sesat. Seperti yang ditulis dengan sangat indahnya dalam Mazmur 23.
Gembala yang ideal haruslah kuat, rela berkorban, dan tidak mementingkan diri sendiri. Seperti yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus sendiri, "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-damba-Ku dan domba-damba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku" (Yohanes 10:11-15).
Kitab Suci menekankan betapa pentingnya tanggung jawab setiap pemimpim atas pengikutnya. Walaupun demikian, tidak perlu kita menghakimi mereka, sebab sejak zaman Perjanjian Lama sudah banyak gembala serupa yang tidak setia, di mana mereka lebih mementingkan diri sendiri, dan bukan domba-dombanya; domba mereka dibunuh dan diserahkan demi keuntungan mereka sendiri, mereka mengkhianati tugas mereka yang sesungguhnya. Walaupun demikian, saatnya akan tiba di mana Allah akan mengumpulkan kembali domba-domba itu dan menghakimi gembalanya. Yeremia 25:34 menyatakan, "Mengeluh dan berteriaklah, hai para gembala! Berguling-gulinglah dalam debu, hai pemimpin-pemimpin kawanan kambing domba! Sebab sudah genap waktunya kamu akan disembelih, dan kamu akan rebah seperti domba jantan pilihan."
Kita pergi ke gereja untuk mencari Allah yang benar, bukannya untuk mencari Hamba Allah yang benar; karena Hamba Allah yang benar-benar sempurna tanpa cela dan dosa tidak akan ditemui di gereja mana pun juga di dunia ini, terkecuali Yesus. Namun demikian, sebagai akhir dari tulisan ini, saya kutipkan Ibrani 10:25, "Janganlah kita lalai menghadiri kebaktian di gereja seperti yang dilakukan beberapa orang, tetapi marilah kita saling memberi dorongan dan saling mengingatkan, teris-timewa sekarang ini, sebab hari kedatangan-Nya yang kedua kali sudah dekat."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar